Seluk Beluk Khasiat Pohon Kelor: Profil Adinda Alifiansi Candra Dewi : Mendali Emas dari Penelitian KELOR

Saturday, September 6, 2014

Profil Adinda Alifiansi Candra Dewi : Mendali Emas dari Penelitian KELOR

Profil Adinda Alifiansi Candra Dewi : Mendali Emas dari Penelitian KELOR


Adinda Alifiansi Candra Dewi (18), siswi kelas XII Jurusan Farmasi SMK Theresiana Semarang, tak pernah menyangka penelitiannya berbuah medali emas di Taiwan.

Adinda Dewi - Peraih Emas APCYS Taiwan 2014
Adinda Dewi - Peraih Emas APCYS Taiwan 2014

Mengaku sempat minder, Adinda akhirnya mampu mengharumkan nama Indonesia pada lomba riset tingkat SMA Asia-Pacific Conference of Young Scientist (APCYS) ketiga di Taiwan.

Penelitiannya yang berjudul "Kelor Seed as Water Cleanser" membuat Adinda menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang meraih emas di ajang itu. "Enggak pernah terpikir bisa dapat emas karena yang lain penelitiannya juga keren-keren," kata dia saat ditemui di SMK Theresiana, Jalan Gajah Mada, Semarang, Selasa (26/8/2014).

Adinda menceritakan, penelitiannya berawal dari kegalauannya melihat sungai-sungai yang kotor di tengah Kota Semarang. Terlebih lagi, warga di sekitar sungai tersebut tidak bisa mendapatkan pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Padahal, air bersih merupakan kebutuhan utama masyarakat.
"Saya kan setiap berangkat dan pulang sekolah melewati sungai itu. Selain itu, juga banyak penelitian tentang biji kelor yang bisa menjernihkan air. Makanya saya coba," ujar dia.

Adinda kemudian melakukan penelitian tentang biji kelor tersebut dengan dibantu guru pembimbingnya, Shierly Veronica Mayasari. Akhirnya lewat penelitian tersebut ia bisa meraih medali perak pada lomba penelitian belia tingkat Provinsi Jawa Tengah pada Oktober 2013 lalu.

Kemudian di tingkat nasional, Adinda meraih perunggu pada November tahun lalu. Ia mengatakan, perjalanan penelitian ini juga terbilang panjang, lebih kurang sampai satu tahun. Ia juga sudah melakukan beberapa kali percobaan dengan air dari dua sungai berbeda dengan tingkat kekeruhan yang berbeda pula.

"Dari setiap tingkatan lomba itu ada evaluasi dan perbaikan, awalnya dengan dosis 400 mg serbuk biji kelor untuk satu liter air dan waktu penjernihan hingga delapan jam, dan untuk yang ke Taiwan sudah dengan dosis tepat, yakni 30 mg untuk satu liter air dengan waktu lebih efektif hanya satu jam, akhirnya malah dapat medali emas," kata dia.

Adinda menjelaskan, biji kelor yang sudah menjadi bubuk itu bisa untuk menjernihkan air. Air yang sudah jernih bisa bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga. "Kalau untuk langsung diminum harus diteliti lagi di laboratorium, tapi ini sudah bisa untuk mencuci, mandi, dan kebutuhan air bersih lain," ujar siswi kelahiran Semarang, 3 April 1996, itu.

Berada di ajang internasional, bagi Adinda, merupakan pengalaman berharga dan luar biasa. Dengan penelitiannya itu, ia juga bisa memperkenalkan biji kelor dengan nama Latin Moringa oleifera yang banyak ditemukan di Indonesia.

Saat presentasi, ia juga membawa contoh berupa biji kelor kering untuk diperlihatkan. Terdapat tujuh negara yang turut serta pada ajang tersebut, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, Korea, dan Guam.


"Bawa sedikit untuk contoh, dan ternyata yang banyak ditanyakan juga keberadaan kelor sendiri apakah banyak di Indonesia. Dan penelitian ini saya lakukan karena kelor banyak ditemukan di sekitar kita dan mudah tumbuh," tutur putri pertama pasangan Kodrat Agung Ari Winanto dan Andrini Widiasari itu.

Source : Tribunews

1 comment:

  1. Berpikir hadap cerdas dan melakukan melalui penelitian

    ReplyDelete